Monday, 20 July 2015

Di Balik Kesulitan Terdapat Kemudahan


Latar belakang TK, SD, SMP, dan SMA yang bagus, membuat mereka tidaklah kesulitan melanjut ke Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia. Semua putriku masuk Universitas Indonesia. Lindi ke Teknik Industri, Fiona ke Teknik Lingkungan, dan Hani ke Manajemen. Semua itu diraih semasa kami tinggal di rumah kontrakan di Jatipadang. 




Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan salah satu tempat yang sangat berkesan dalam hiudup ku dan keluargaku. Tepatnya Manara dekat masjid Al Huda Rt 04 Rw 04 disanalah kami tinggal sangat lama. Rumah kecil dekat kuburan itu telah aku tinggali Tahun 1985 saat aku masih berusia 25 tahun dan masih hidup sendiri alias jomblo. Rumah berukuran 3,5 m x 12 m itu awalnya dihuni 2 orang saya dan temanku Anwar Dalimunte yang sama-sama berasal dari  Sumatera Utara dan bekerja di Kementerian Pertanian, kemudian bertambah dengan 2 orang lagi yang sama-sama bekerja di Kementerian Pertanian yaitu Sdr. Kaswanto dan Joko putra Jawa Tengah. 
Anakku di Depan Rumah Kontrakan  
 

Empat tahun setelah aku memperoleh gelar Sarjana Muda (BA) dari IKIP Muhammadiyah di Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, aku memboyong seorang gadis desa dari Tukka, Tapanuli Tengah untuk hidup bersama dan tinggal di rumah kontrakan itu. Temanku yang tiga orang tadi, ya (mungkin) dengan berat hati terpaksa mencari tempat tinggal lain karena tidak mungkin mereka tinggal bersamaku yang telah berkeluarga. Memang rumah itu dekat sekali dengan Kantor Kementerian Pertanian di Ragunan. Jalan kaki hanya 15-20 menit menelusuri jalan lingkar luar Jl. TB Simatupang. Kalau naik angkot malah semakin jauh dan lama karena harus naik 2 kali yaitu angkot M17 turun di Koperasi dan melanjutkan dengan angkot S15A.
Rezeki dan keberkahan datangnya dari Allah SWT, tapi di rumah kontrakan kecil itu aku dan keluarga memperoleh banyak keberkehan. Tiga orang puteriku lahir dengan selamat ketika kami tinggal di rumah itu. Mereka memperoleh sekolah yang terbilang bagus mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA. Hanya berjarak kurang lebih 500 m dari rumah terdapat Taman Kanak-Kanak Tunas di pinggir Jl. TB. Simatupang dimana puteri pertama kami Lindi Anggraini dan puteri ketiga Hani Trisa Nugrahi mulai mengenal dunia sekolah disana, sedangkan puteriku yang nomor dua belajar di TK Tunas yang berada di Komplek Pertanian Karang Pola kira-kira 2 KM dari Gg. Manara. Sehabis TK semua anak-anakku belajar di SD Pelita sekolah swasta yang sangat bagus di sekitar Pasar Minggu juga sangat dekat dengan tempat tinggal kami. Semua anak-anakku bisa belajar di sekolah favorite SMP Negeri 41 Ragunan. Jarak sekolah yang dekat ini memberikan keuntungan finansial, prestasi, dan kenyamanan bagi kami. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makan atau jajan yang banyak karena pagi hari masih sempat sarapan di rumah dan siang juga masih sempat makan di rumah. Lain hal kalau mereka tinggal jauh, dengan kemacetan kota Jakarta, mereka tidak akan sempat sarapan pagi di rumah begitu juga makan siang. Selain karena isteriku sangat disiplin dan peduli dengan anak-anak kami, ditambah dengan jarak yang begitu dekat ke sekolah serta lingkugnan yang kondusif di Jati Padang, Alhamdulillah anak-anakku bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Sehabis SMP, mereka melanjutkan studi SMA yang sangat bagus. Lindi dan adiknya yang paling bontot masuk SMA Negeri 8 di Bukit Duri, Jakarta Selatan, sedangkan Fiona ke SMA Negeri 28 masih di Jati Padang.
Setelah 17 tahun tinggal di rumah berukuran 3,5 m x 12 m, pada tahun 2002 Alhamdulillah kami bisa pindah ke rumah yang lebih lega berukuran kira-kira 100 m2, meskipun masih ke rumah kontrakan. Kedua kontrakan itu milik keluarga alm Abdillah, putrinya bernama bu Chadijah yang telah lama ditinggal suaminya. Bu Chadijah hidup bersama ibunya bernama Ibu Indun (alm kira-kira 5 tahun lalu) dan empat orang anak-anaknya yang bernama Ety, Lilies, Deni dan Kiki yang disaat tulisan ini dibuat semua telah menikah dan memiliki anak-anak.

Selain lokasi dekat dengan tempat kerja dan sekolah, Gg. Manara Jatipadang juga dilingkupi dengan lingkungan yang masih asri dengan pohon rambutan, belimbing, pisang, dan kelapa. Tahun 1980-an bahkan masih terdapat pohon durian, kecapi, dan duku. Lingkungan yang agamis, bersahabat dengan mayoritas penduduk asli suku Betawi, dan pengurus RT dan RW yang sangat baik hati, membuat kehidupan di lingkungan itu aman dan nyaman. Saat perayaan Agama Islam, misalnya maulidan, orang berbondong-bondong datang ke Mesjid Al Huda untuk mendengarkan ceramah dari beberapa Kyai sambil membawa serta makanan khas Betawi nasi uduk lengkap dengan jengkol dan ikan asin. Menjelang puasa, semua warga bergotong royong membersihkan masjid dan lingkungannya. Ada yang menyapu, mencat, dan mendekorasi dengan umbul-umbul dan hiasan dalam. Semua dikerjakan dengan riang gembira dan rasa persahabatan sesama umman Islam. Ibu-ibu tidak ketinggalan menyediakan kue, teh, dan kopi sedangkan orang-orang yang punya duit tidak berat membeli rokok dan nasi padang untuk bapak-bapak dan remaja yang kerja. Nikmat apa lagi yang kamu dustakan?
Sebahagianya kami tinggal di Jati Padang, ada satu hal yang sering mengurangi rasa bahagia itu. Kami tinggal di rumah kontrakan. Setiap tahun uang tabungan yang dikumpulkan oleh isteriku sedikit demi sedikit itu habis untuk kontrakan. Lumayan berat buatku yang hanya seorang PNS rendahan sedangkan isteri tercintaku hanya di rumah mengasuh anak-anak kami. Kurang nyaman memang ketika ketemu dengan teman atau saudara, dan menanyakan tinggal dimana, apakah sudah rumah sendiri atau masih ngontrak. Memiliki rumah sendiri di Jakarta merupakan satu cita-cita setiap perantau, bahkan sering dijadikan ukuran keberhasilan seorang perantau. Berat untuk mengatakan yang sesungguhnya tapi aku tidak mau berdusta. Kalau saya jawab masih tinggal di rumah kontrakan, terkadang teman/saudara yang bertanya mengeritkan dahinya pertanda kurang percaya, dan mungkin bertanya bagaimana mungkin sudah berumur 54 tahun, kerja di Kementerian Pertanian dengan pangkat Golongan IV/b dan pendidikan S2 masih tinggal di rumah kontrakan. Tapi faktanya memang demikian. Sejujurnya, kami bukan tidak memiliki rumah, punya sih tipe 21 di Komplek Perumahan Atsiri Permai, Citayam, Bogor kira-kira 24 Km jaraknya dari kantor Kementan Ragunan. Kalau naik jemputan atau naik motor makan waktu 1 jam sekali jalan. Ada alternative naik Kreta Jabodetabek. Tapi karena anak-anakku sekolah di Jakarta, mereka merasa keberatan pindah ke Citayam. Rumah di Citayam terkadang di kontrakkan dengan sangat murah Rp. 1 juta per tahun, terkadang kosong, banyakan kosongnya. Sekarang rumah itu sudah hancur karena tidak ada lagi orang yang mau mengontrak saking jeleknya.

Berjalanlah Terus Meski Diatas Derita
Perjalanan hidupku penuh liku, derita, dan terkadang berbaur dengan bahagia. Sebelum ke Medan, saya menghabiskan waktu 4 tahun di Padang Sidempuan ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan bersekolah di Pendidikan Guru Agama 4 Tahun padahal semestinya 6 Tahun. Aku harus meninggalkan sekolah itu akibat kegundahan dan ketidakyakinanku akan bisa meraih cita-citaku. Mungkin aku salah dan mungkin juga benar. Tapi aku tidak tahu harus pergi kemana. Di tengah kebimbingan, aku masih sempat mengikuti ujian extranei SMP dan memperoleh Ijazah. Hari berganti hari, waktu pendaftaran ulang ke PGA 6 tahun sudah tertutup. Itu berarti aku tidak bisa lagi belajar di sekolah itu. Sekolah lain juga begitu kecuali Sekolah Pertanian Menengah Atas Medan. Saya masih ingat saat itu di pagi hari di  sebuah rumah makan milik Abang Limbong (alm) di Desa Muara Nibung, Kabupaten Tapanuli Tengah. Di rumah makan itu saat libur sekolah aku sering diminta Abang Limbong membantu melayani pengunjung yang singgah makan. Tiba-tiba aku dipanggil oleh Ayahku mendekatinya yang sedang berbincang dengan seorang Bapak Siregar. Bapak Siregar mempunyai anak yang sedang sekolah di SPMA Medan. Ia memberi penjelasan apa itu sekolah pertanian dan kemana bekerja setelah lulus. Mendengar itu, aku tertarik dan harus hari itu berangkat ke Medan karena pendaftaran ditutup esok harinya. Singkat kata, aku dan ayahku tiba di Jalan Binjai KM10 pada jam 10 pagi padahal waktu pendaftaran akan ditutup jam 12. Jadilah saya pendaftar terakhir dengan nomor urut 300.
Memperoleh 1 kursi dari 100 orang yang akan diterima dari 300 orang pendaftar tentulah sangat berat bagiku yang berlatarbelakang pendidikan PGA dibanding dengan mereka yang datang dari SMP terbaik se Sumatera Utara. Bismillah, aku harus mengalahkan rasa takutku, kuikuti ujian masuk sekuat tenagaku. Aku tidak mau terpengaruh komentar salah satu guru di sekolah itu yang mengatakan bahwa aku sulit diterima karena aku berada pada jurusan yang salah. Orangtuaku, kakak dan adikku juga tidak yakin kalau aku bisa lulus, apalagi saat itu sudah sering terdengar bahwa untuk lulus harus ini dan itu. Sedangkan aku polos-polos saja alias semata mengandalkan niat dan tekadku yang tak terbendung untuk lulus. Alhamdulillah, aku diterima sebagai Siswa Sekolah Pertanian Menengah Atas Negeri Medan Tahun 1976.

Banyak kegelian yang kualami selama di SPMA Medan. Hari pertama pelajaran Bahasa Indonesia. Aku mendapat giliran menceritakan kisah bagaimana aku sampai di SPMA. Teman-teman sekelas dan Ibu Guru Mardiati, BA tersenyum geli karena aku tidak bisa membedakan ruang tatausaha dan perpustakaan. Bu Guru mempertegas, jadi kamu mendaftar ke perpustakaan? Iya bu sahutku. Dua hari berselang, pas belajar Matematika, aku disuruh mendekat ke papan tulis oleh ibuguru Afi (alm). Aku terbengong malu karena tidak bisa menuliskan rumus umum ABC. Bagaimana mungkin aku bisa menuliskan, karena baru saat itu aku mendengar yang namanya rumus umum ABC. Selama 1 tahun, nilai Matematika ku sangat jelek, meskipun aku sudah berhasil duduk sebangku dengan teman yang pintar matapelajaran itu. Tapi saat pelajaran Bahasa Inggris, aku tidak gentar karena di Padang Sidempuan aku sempat kursus Bahasa Inggris 1 tahun di Darmapala English Course. Triwulan I, nilai rapor secara umum baik kecuali Matematika. Aku masih bisa menduduki rangking II dibawah temanku Darwin Purba (alm). Seterusnya aku tidak menghadapi banyak masalah bahkan prestasi extra kurikuler juga menonjol. Pernah dipercaya mengelola ternak ayam oleh Pak Sisworo (alm), Ketua Pramuka dan melatih anak-anak guru di kampus SPMA, meraih Siswa Teladan, dan pernah juga dipilih menjadi Ketua OSIS. Tamat dari SPMA Tahun 1980.

Lulus sangat memuaskan dari SPMA tidak cukup membuat hatiku tenang. Aku bingung antara melanjutkan kuliah atau bekerja. Lulusan SPMA itu diutamakan bekerja sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), boleh sih melanjutkan kuliah tetapi matapelajaran tidak didisain untuk itu. Akan ketinggalan dalam ilmu-ilmu dasar di perkuliahan. Aku coba untuk bekerja, ikut pak Martias Bidin (alm) di Balai Latihan Pegawai Pertanian Gedung Johor, Medan. Beliau adalah bapak angkatku. Dua tahun saya tinggal bersama keluarganya ketiga ia menjabat Direktur SPMA Medan. Beliau sudah mencoba menenangkan hatiku agar selama dua tahun focus pada pekerjaan baru kemudian melanjutkan kuliah. Saat itu jiwa dan pemikiranku belum dewasa. Dengan pongah, hatiku berontak dan kutinggalkan BLPP dan kota Medan untuk berangkat ke Jakarta dengan penuh ketidakpastian.

Ijazah SPMA dan ingin bekerja di Jakarta yang notabene non-pertanian ibarat mimpi di siang bolong. Satu bulan aku kesana kemari membawa lamaran kerja tapi hasilnya nihil. Kusugesti hatiku: Halim, kamu tidak boleh menyerah teruslah mencari dan mencari. Akhirnya pada bulan kedua di Jakarta aku diterima tenaga honorer di Dinas Pertanian DKI Jakarta dengan gaji Rp. 22.500 per bulan, cukup untuk menopang makan di Jakarta. Dua bulan kemudian, aku pindah kerja dari Gedung Balai Kota lantai 21 ke Badan Pendidikan, Latihan, dan Penyuluhan Pertanian di Pasarminggu atas jasa baik Bapak Sisworo (alm) mantan guruku yang bekerja disana.

Kegelian seperti di Medan, terjadi di BPLPP ketika saya diminta mengetik surat. Aku bengong dan dengan rasa malu dan sedikit rasa takut mengaku bahwa belum pernah tahu bagaimana cara mengetik. Keesokan harinya, saya cari tempat kursus mengetik 10 Jari (Blind System) dan belajar 1 bulan penuh setiap hari di Abuzal jalan Salemba Raya. Karenanya aku bisa mengetik 10 jari dengan sangat lancar melebihi teman-teman di kantor yang berlatar belakang SMEA. Kepala Subbidang maupun Kepala Bidang, pada berlomba menyuruh saya mengetik karena selain cepat juga agak akurat (sedikit sombong). Karena itu pula aku bisa menginjakkan kakiku pertama kali di Bali naik pesawat pertama kali dari bandara Halim Perdanakusuma (ada persamaan dengan namaku, kan?).

Oh ya, hampir lupa pertama datang ke Jakarta saya 1 bulan saya tinggal numpang di rumah kontrakan kakak yang sangat kecil di belakang rumah mewah di Simprug Jakarta Selatan. Kalau saya sebut Simprug, orang mengira bahwa kakak saya orang kaya karena tinggal di daerah elit di Jakarta. Tapi ada yang sangat mahal yang saya dapat dari setiap hari melintas di depan rumah-rumah mewah di Kebayoran Baru. Sampai saat kisah ini kutulis, masih kental dalam ingatanku bentuk rumah-rumah di Simprug yang megah, bertingkat, dengan taman yang indah. Hatiku berdoa, alangkah nikmatnya tinggal di rumah seperti itu, berikan hambamu ini rezeki.

Bekerja Sambil Kuliah
Niatku semula datang ke Jakarta untuk kuliah, tapi bagaimana mungkin saya bisa membayar biaya pendaftaran, pembangunan, dan semesteran dengan honor yang kecil di Kementan. Tapi daripada tidak sama sekali, jadilah saya melanjutkan kuliah malam hari di IKIP Muhammadiyah jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat. Kenapa disitu? Pertama biaya murah, kedua bisa diterima meskipun Ijazah Sekolah Pertanian, ketiga kuliah malam hari sehingga tidak mengganggu pekerjaan. Saat memilih jurusan saya bingung, karena tentu tidak ada yang segaris dengan latar belakang pendidikan saya. Diantara yang sulit kupilih Jurusan Ekonomi Perusahaan. Namanya Ekonomi, pasti belajar Pembukuan/Tatabuku/Akuntansi. Meskipun beberapa kali mengulang, tapi nilai tidak kunjung bagus. Ya teranglah, membedakan debet-kredit, aktiva-passiva tidak bisa apalagi menyusun neraca lajur. Saya masih ingat ketika pertama kali belajar Tatabuku, sang dosen  menugaskan mahasiswa menyusun neraca melalui 10 tahapan. Malam itu sampai jam 12 malam aku tidak bisa tidur dan terus belajar tetapi terus tidak mengerti. Sampai 3 tahun aku tidak mengikuti pelajaran Tatabuku hingga akhirnya libur puasa Ramadhan hati saya tergerak untuk ikut kursus Tatabuku mulai dari dasar di Pusat Kursus Kursus, Karet, Jakarta Selatan. Sejak itu aku baru “ngeh” (tahu) tentang prinsip-prinsip dasar Tatabuku dan menjadi sangat tertarik untuk lebih mendalaminya.

Antara Cililitan dan Salemba Raya
Agar lebih strategis, saya pilih tinggal di Cililitan di rumah kontrakan yang sangat kecil 2 x 2 m. Tapi tidak apalah, dari Cililitan ke tempat kerja di Pasarminggu sekali naik Metromini dan juga sekali ke Salemba naik bis Gamadi. Di Cililitan aku tinggal bersama sahabat karibku Ibrahim Saragih teman sekelas di SPMA Medan. Kalau dari Cililitan menuju IKIP Muhammadiyah, melewati kampus perguruan tinggi terbaik di Indonesia, yakni Universitas Indonesia. Setiap kali sang kondektur berteriak UI, UI, UI, hatiku serasa teriris dan mengeluh, Allah, kenapa Engkau tidak membawaku kuliah ke sini. Engkau tidak adil gumanku dalam hati. Ya Allah kapan aku bisa kuliah disini. Kalaupun tidak aku, aku mohon agar anakku Engkau antarkan kuliah kesini. Hanya dengan pertolonganmu ya Allah itu bisa terjadi.

Setelah menyelesaikan Sarjana Muda Pendidikan Jurusan Ekonomi Perusahaan dalam 3 tahun, aku ingin move on. Aku ingin ijazah S1 ku negeri. Tapi bagaimana bisa, aku bekerja siang hari di Kementan. Aku tidak melanjutkan kuliah di IKIP Muhammadiyah dan tidak juga ke lain. Sejak tahun 1984 hingga 1988 aku tidak jelas arah. Tapi masih beruntung waktu itu kumanfaatkan kursus Bahasa Inggris di Lembaga Amerika Indonesia (LIA) hingga Intermediat Level dan memperoleh Teaching Skill dari Australian Language Center tahun 1987. Selain itu juga aku banyak mengajar di kursus untuk bidang studi Akuntansi dan Bahasa Inggris. Terkadang mengajar Bahasa Inggris terkadang Akuntansi tergantung pada kesempatan yang ada.

Tahun 1988 saya menikah dengan buah hatiku Dahniar Panggabean yang kubawa dari kampung Hutanabolong, Tukka, Sibolga. Tanggung jawabku bertambah, gengsiku juga meningkat. Cita-citaku kuliah di Perguruan Tinggi Negeri belum kesampaian. Anak kami yang pertama lahir tahun 1989 di rumah kontrakan di Jatipadang. Ya Allah bagaimana amanah ini akan kupertanggung jawabkan kepadaMu kalau aku hanya pegawai rendahan. Bagaimana bisa saya menyekolahkannya di sekolah yang bagus. Mumpung belum terlambat, meskipun sangat berat kuputuskan melanjutkan kuliah ke IKIP Negeri. Menghadap pimpinan menyampaikan maksud dan tujuan, aku tidak diizinkan meninggalkan tugas PNS sehingga harus kuliah di malam hari kalau tetap mau menuntaskan pendidikan S1.  Aku kembali ke rumah dan musyawarah dengan insteri tercinta. Kami sepakat mengambil resiko dengan kuliah di IKIP Jakarta (sekarang UNJ) tetapi bermohon bisa bekerja malam hari sebagai SATPAM.
SATPAM Malam Hari di Kementan Tahun 1989-92

Kebetulan saat itu Sekretaris Badan adalah pak Ir. Sobirin, ketika ia Kepala Pusat Pendidikan saya menjadi paniteranya. Jadilah saya ditugaskan sebagai SATPAM malam hari dan kuliah pagi dan siang hari di IKIP Jakarta. Ya Allah berat sekali beban ini bagi hambaMu. Mencari nafkah untuk isteri dan anak, kuliah pagi dan siang hari, malamnya harus begadang menjaga kantor di Ragunan. Aku pernah meneteskan air mata saat takbir berkumandang pada malam Hari Raya Idul Fitri sementara saya harus bertanggung jawab menjaga keamanan kantor di Gedung E, lantai Dasar. Saat karyawan kantor ada yang lembur hingga malam hari, ketika giliran saya jaga pasti bertemu dengan mereka. Aku malu menjadi SATPAM, tapi aku harus kuliah.
Karena terlanjut mencintai Akuntansi, maka jurusan yang kupilihpun Akuntansi. Berkat dukungan isteri dan tuntunan dari Allah SWT, kuraih Ijazah S1 Pendidikan Akuntansi Tahun 1992 yakni 8 tahun setelah selesai BA dari IKIP Muhammadiyah. Subhanallah, walhamdulillah. Di kantor derajat dan kepercayaan diriku meningkat seiring dengan mulai diikutsertakan pada rapat-rapat staf yang ketika masih SLTA sangat jarang diikutkan. Aku ditempatkan di Subbagian Verifikasi, Bagian Keuangan dengan pimpinannya pak Edi, selain itu aku juga dipercaya sebagai manajer Koperasi Sejahtera milik pegawai Badan Diklat Pertanian.


Kuliah S2 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik
Allah Maha Besar. Doaku ketika di atas bis Gamadi tahun  1982-1984 saat melintas di depan Universitas Indonesia dikabulkanNya. Tahun 1998 aku diteima menjadi Mahasiswa Pasca Sarjana Program Perencanaan dan Kebijakan Publik di Universitas Indonesia setelah melalui tahapan tes mulai dari kelengkapan administrasi dan makalah, Tes Potensi Akademik, dan Bahasa Inggris. Seingat saya, dari Kementerian Pertanian ratusan orang mengikuti tes program beasiswa OTO-Bappenas, tapi kalau tidak salah hanya 5 orang yang lulus yaitu saya Abdul Halim dan Rani Mutiara dari BPPSDMP, Widya, Waluyo, dan Abdul Gafur dari Ditjen Perikanan. Saya dan teman dari Ditjen Perikanan ke UI sedangkan Rani Mutiara ke PT lain. 
Dengan rasa bangga dan semangat tinggi, kuselesaikan program itu dalam 2 tahun pada Tahun 2000. Tapi saat Dr. Muhammad Ikhsan salah seorang penguji tesis dan komprehensif bertanya, “Kenapa Anda tidak cumlaude?” Sejenak aku terdiam, dan menatap wajahnya sambil berucap lirih "maaf pak, saya tidak bisa full time belajar karena harus mengajar malam hari untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan 3 orang putri, 2 orang telah duduk di bangku SD. Padahal kuliah di UI sangat sulit dan dosen tidak pernah mau memberikan keringan kepada mahasiswa apapun alasannya. Ada anekdot, masuknya saja sulit masa keluarnya mudah. . Pada suatu saat Bu Sri Mulyani (saat itu Ketua Program MPKP) "marah" kepada kami yang belum mengenal culture belajar di UI. Gara-garanya, ia datang terlambat karena ada tugas di Singapura. Mahasiswa memprotes kenapa terlambat dan begitu juga dosen yang lain sering datang terlambat. Beliau mengatakan, hei .... kalian sudah dewasa, kalian kuliah di UI yang dosennya sibuk semua. Tetapi kesibukan dosen menambah pengalaman dosen, dan pengalaman itu dibawa ke sini, imbuhnya. Saya masih ingat beliau mengajukan 2 pilihan apakah menjadi seperti rusa di padang rumput atau macan di hutan belanjara. Ia menginginkan mahasiswa UI itu harus menjadi "seperti" macan di hutan belantara.  Ia tidak menjelaskan perumpaannya, tapi kami paham yang dimaksudkan. Sejak itu kami tidak pernah cengeng hanya karena dosen terlambat atau tidak datang sama sekali. Belajar tidak harus dengan dosen, tetapi dengan teman, atau pergi ke perpustakaan yang notabene saat itu perpustakaan Fakultas Ekonomi adalah perpustakaan terlengkap Ekonomi di Indonesia. Terima kasih bu Sri Mulyani.

Anak-anakku semua kuliah di UI



Dari kiri, Hani, Lindi, dan Fiona


Alhamdulillah, Maha Suci Engkau pencipta langit dan bumi beserta isinya. Engkau kabulkan doa kami. Lindi dan Fiona sudah bekerja di Perusahaan Konsultan, lumayan mereka sudah mempunyai penghasilan sendiri. Terkadang mereka mentraktir kami makan di restoran terbaik di Jakarta. Mereka sering memberi uang belanja untuk ibu nya dan adiknya Hani Trisa Nugrahi. Doaku semoga mereka lekas berumah tangga dan mendapat jodoh yang soleh, memimpin, pembelajar dan pekerja keras seperti mereka. Amin Ya Robbal Alamin.





Bekerja untuk Kehidupan
Saya tidak tahu apa yang terjadi jika saat itu saya tidak meninggalkan kota Padang Sidempuan menuju Medan, begitu juga saya tidak tahu akan seperti apa jika tidak meninggalkan Medan menuju Jakarta. Di Jakarta, sepertinya semua penderitaan telah kualami. Tetapi sepertinya juga semua kebahagiaan sudah saya gapai.
Tukang Ketik Tahun 1981-89 (kanan)
Iya, mulai dari belajar mengetik 10 jari karena tidak bisa mengerjakan tugas dari pimpinan, kursus Tatabuku karena tidak pernah lulus matapelajaran Tatabuku, SATPAM malam hari hanya untuk bisa kuliah siang hari, bisa belajar Bahasa Inggris karena tidak melanjutkan S1 di IKIP Muhammadiyah, bisa kuliah di Pasca Sarjana UI karena sering tidak dilibatkan dalam kegiatan sehingga banyak waktu belajar mempersiapkan diri menghadapi tes TPA dan Bahasa Inggris, dan sebaainya dan sebagainya.

Di balik derita itu juga telah kunikmati hidup senang di Jakarta. Mulai dari pergi naik pesawat ke Bali saat tiket masih sangat mahal di tahun 1982, bisa kursus Bahasa Inggris di Australian Language Center dengan native speaker dan master Bahasa Inggris dari Inggris dan Australia, ditugaskan training ke Philippines saat usia masih 26 Tahun, bisa mengajar Akuntansi dan Bahasa Inggris pada kursus-kurus di Jakarta dan perusahaan, sering diundang menjadi narasumber Pengadaan Barang di Kementerian/Lembaga Pemerintah, beberapa kali berkunjung ke Jepang sebagai Pembina petani muda, sekali ke China dan Australia serta Negara-negara ASEAN. Karir di kantor juga tidak jelek-jelek bangat. Meski sedikit terlambat, masih sempat menduduki eselon IV (Kepala Subbidang/Seksi) selama 10 tahun dan eselon III (Kepala Bidang/Bagian) selama 4 tahun. Sebagian teman-teman ada yang hingga pensiun tidak pernah sampai ke eselon III bahkan eselon IV meskipun saat mulai bekerja pendidikannya jauh lebih tinggi dari saya.

Nikmat Apa Lagi yang Kamu Dustakan?
Bagiku derita itu misteri. Aku tidak tahu artinya, apakah itu memang sungguh derita atau training sebagai persiapan mencapai prestasi. Penderitaan terbukti mendidik saya semakin sabar, berusaha terus menerus, pantang menyerah, manusia pembelajar,  tidak sombong dan Insyaallah pandai bersyukur.
Tiga puluh lima tahun yang lalu disaat melintas di depan rumah mewah di Simprug, kalau dinilai dari sudut pandang negatif, tinggal di kontrakan kumuh di belakang rumah mewah tentu suatu derita, tapi jika dilihat dari sisi lain bahwa Allah mengajari kita untuk bermimpi dan bekerja meraih mimpi, bisa jadi itu benar. Meski tidak sama percis dengan yang kulihat 35 tahun lalu, sejak Desember 2014, kami bisa tinggal di rumah sendiri di Kebagusan, rumah itu bertingkat memiliki sedikit taman, lingkungannya lumayan bagus yang dihuni orang-orang baik. 

Rumah Idaman 35 Tahun lalu
Gambar rumah itu mungkin sudah dicetak 35 tahun lalu tapi baru diujudkan sekarang. Jika saya tidak sabar, mungkin gambar itu sudah saya buang dan tidak pernah saya ujudkan. Tapi gambar itu selalu menginspirasi, memotivasi, dan menguji kesabarannku. Banyak sudah rumah yang kami cari dalam 5 tahun terakhir, bahkan isteri saya sanking seringnya mencari rumah sudah hampir hafal semua nama jalan di Jatipadang, Kebagusan, Jagakarsa, Ciganjur, Tanah Baru dan Depok. Tapi setiap kali ketemu rumah, perasaan ada saja kurangnya. Terkadang harganyalah, bentuknyalah, lingkungannya, dan lain sebagainya. Tetapi kenapa hati kami berlabuh pada satu rumah di Kebagusan. Sering sekali kami dan anak-anak tidak tidak sependapat untuk membeli rumah. Tapi kali ini semua satu suara. Sesungguhnya kami tidak punya cukup uang untuk membeli rumah seharga 1,38M tapi entah bagaimana semua kemudahan disajikan ke depan kami. Orang tua meminjami sedikit, Saudara meminjamkan lumayan banyak, bank Mandiri memberi pinjaman 150juta untukku yang bekerja sebagai PNS di Kementan, anakku Lindi mendapat plafon kredit cukup besar dari Bank DKI. Jadilah membeli rumah yang telah digambar 35 tahun lalu. Ya Allah jadikan kami orang-orang yang bersyukur atas nikmatmu.

Semua anak-anakku kuliah di UI mungkin juga karena aku sudah diarahkan oleh Yang Maha Agung sejak aku melintas di depan Kampus UI Salemba. Memori tidak terhapus bahkan hingga menempel di otak bawah sadar. Ibarat kapal laut yang akan berlayar, tujuan akhir sudah disetting. Kapal besar meski badai menerpa, ombak menghantap geladak, bintang-bintangpun menghilang, tapi nakhoda tidak goyah dan tetap mengarahkan kapal ke tujuan akhir yang telah ditetapkan. Jika aku tidak selalu melintas di UI, jika kondektur bis Gamadi tidak meneriakkan ke telingaku UI, UI, UI. Jika aku melintas tetapi dalam keadaan bersenang-senang di dalam mobil ber AC, mungkin memori itu tidak berbekas kuat dan dalam 1 atau 2 tahun menghilang.
Begitulah Allah mengatur ciptaanya dengan caraNya sendiri. Kita hanya wajib mengimani bahwa Ia maha adil atas hamba-hambanya. JanjiNya pasti.

Kebagusan, Jakarta, 21 Juli 2015